Berita: Ajudan dan Sopir Susno Ditarik?

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang menyatakan belum tahu persis apakah benar ajudan dan sopir pribadi mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Susno Duadji sudah ditarik. Namun, seandainya pun benar, hal itu semata-mata karena berkait dengan jabatan.

“Di Polri itu ajudan dan sopir pribadi melekat pada jabatan. Jadi kalau itu benar ditarik ya karena beliau sudah tidak menjabat (Kabareskrim) lagi,” kata Aritonang yang dihubungi, Kamis (7/1/2010) malam ini.

Jadi benar bahwa ajudan dan sopir pribadi Susno telah ditarik? Aritonang tidak menyatakan begitu. “Saya hanya katakan kalau semua itu melekat pada jabatan,” katanya.

Jadi benar kalau seorang Kepala Polda, misalnya, tak lagi menjabat maka semua itu ditarik? “Saya juga tak menyatakan seperti itu,” katanya.

Sebelumnya, sebuah stasiun televisi menayangkan dalam running text-nya bahwa ajudan dan sopir pribadi Susno telah ditarik.

Ketika ditanya apakah penarikan itu berkait dengan curhat Susno kepada Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane sebelum hadir sebagai saksi dalam sidang perkara pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Edward memastikannya tidak.

“Kalaupun benar dan baru sekarang dilakukan, itu hanya kebetulan bertepatan waktunya saja. Mungkin kemarin-kemarin baru proses,” katanya.

Saat hadir di PN Jaksel dan tampil sebagai saksi, Susno mengenakan pakaian dinas lengkap perwira tinggi Polri. Kehadirannya juga sempat dipertanyakan karena tidak ada izin dari Kepala Polri.

sumber: http://indonesiaweek.wordpress.com

2 thoughts on “Berita: Ajudan dan Sopir Susno Ditarik?”

  1. Ini rekaan terang daripada SBY agar rakyat yang dah didera derita pelbagai bencana alam itu, mulai dari lumpur Lapindo sehingga gempa bumi Sleman Yogyakarta dan lebih teruk lagi tsunami di Mentawai, tidak memberontak, maka diamalkanlah kes-kes pembohongan, pengalihan perhatian, supaya rakyat lupa. Maklumlah rakyat dan majorit rakan-rakan mahasiswa serta dekan dan rektor Indon tu tolol-tolol sangat. Hari gini, kata teman-teman saya mahasiswa Indonesia di Universiti Doktor Mustafa (Beragama), masih berharap SBY yang terbukti lemah itu memperbaiki Indonesia, mimpi kali. Itu jelas nggak mungkin. Indonesia harusnya memilih tokoh seperti Mahfud MD, yang walau awam tapi tegas dan berani, sebuah darah Jawa Timur bernuansa keberanian Madura yang cendekia, luar biasa.
    Tetapi presiden Indonesia bukan seorang Mahfud tetapi hanya SBY.
    Kini semua orang tahu dan semakin jelas SBY jelas bahagian rejim lama, orang yang numpang dibesarkan Orba, sisa Orba yang beruntung. Tetapi apakah dia akan selamanya beruntung, jangan-jangan nanti berakhir digugat mahasiswa dan rakyat usai berkuasa 2014.
    Megawati menggantikan sisa kuasa Gus Dur. Oleh elite di sini dan Amerika cs, dilihat tidak tidak becus, ini terbkti, dalam mengurus negara. Wwaktu itu banyak copet, emski ekonomi jauh lebih baik, nilai ringgit masih berharga berbanding sekarang. Tetapi TNI dianaktirikan dan Mega lebih saying kepada hanya Polis.
    Oleh penguasa di belakang layar negara-negara membangun iaitu jeneral-jeneral di TNI dan Polis dan terutama oleh penguasa dunia Amerika cs, bahawa kalau terus dipegang Megawati maka kepentingan-kepentingan mereka tidak selamat. Khususnya Amerika cs punya multi kepentingan di Indonesia terutama ekenomi dalam erti yang luas, Amerika pada dasarnya nggak ada kepentingan demokrasi, dan Amerika selalu berstandar ganda.
    Oleh sindiket kuasa Amerika cs, dicarilah saat itu siapa yang pantas memegang kerajaan (boneka) di Indonesia mulai 2004. Yang dicari adalah seorang tokoh yang cukup kuat. Maka diputuskan dia harus dari Angakatan Bersenjata (TNI) dan tidak mungkin dari awam sebab awam di negara-negara membangun seperti Indonesia belum punya disiplin dan tidak akan disegani rakyat khuusnya untuk kes Indonesia. Tokoh itu juga harus tidak keras, tidak idealis dan tidak memeluk nasionalisme kuat seperti Sukarno. Sebab kalau seperti itu, maka tidak mungkin menurut untuk kepentingan Amerika dkk. Tentu tidak mungkin dipilih seorang Wiranto, seorang Prabowo, apalagi seorang tokoh pekerja seperti Mohtar Pahpahan, atau tokoh aktivis demo walaupun idealis seperti Sri Bintang atau Hariman, apalagi yang lain. Apalagi Rustrilanang, Andi Arif atau Budiman Sudjatmiko.
    Itulah kecerdasan Barat maka pilihan jatuh ke tangan seniorita SBY. Mulailah SBY bergerak dengan pelbagai jurus triknya. Dia memulakan membina pencitraan khusus untuk dirinya melalui sebuah konflik dengan Megawati dan suaminya Taufik Kemas ketika Mega masih presiden. Begitu dan selanjutnya sehingga nama harus mulai tertoreh di hati sanubari awam awam di kampung-kampung seluruh Indonesia. Bahkan sampai sekarang SBY lupa kini bukan satnya kempen terus dan dia terus mencitra dengan pelbagai “pencitraan”. Maka strategi SBY, pembangunan apapun yang dilakukan hanya sedikit dan yang terpenting diberitakan dan ini semakin memantapkan kedudukannya, seraya mengamankan kekuasaan dua tempoh dan kalau perlu lebih, meskipun di belakang layar, seperti Lee Kwan Yew Singapura.
    Dipilihnya SBY terbukti cukup menyelamatkan kepentingan Barat hingag saat ini. Dan ketika Obama baru-abru ini mampir ke Indonesia dari India untuk menuju Korsel dan negara-negara lain, pun dicitrakan bahawa SBY sengaja dating ke Indonesia demi SBY. Dipasangnya SBY terbukti menyelamatkan kepentingan Amerika cs. Maka ketiak itu 2004 dengan pelbagai cara akhirnya SBY sebagai pemenangnya bahkan dalam pilihan raya 2009. Tidak ada penguasa tanpa hasil kejuruteraan Amerika cs di negara-negara yang berkiblat ke Barat, termasuk Indonesia.
    Sebetulnya Indonesia ketika Mega tidak terpilih lagi ertinya negeri ini sudah kembali ke Orba tetapi dengan pendekatan lunak dengan bumbu-bumbu kebebasan akhbar dan bicara serta demokarsi hanya sebatas itu. Media menjadi bebas lepas tetapi kerana SDM mereka lemah dan kepentingan utama adalah jelas pemilik modal, mencari untung besar tanpa membina pendidikan dan pencerahan untuk rakyat itu. Media itu tidak berjuang bagi pembangunan sistem amsyarakat madani dan demokrasi yang benar. Sementara orang berkata demokrasi itu sudah kebabalsan. Sesungguhnya bukan kebablasan ettapi lebih tepat dikatakan demokarsi-demokrasian, dan SBY menikmati hal ini.
    SBY dibesarkan masa Orba jadi tidak mungkin tidak mengambil sebahagian pola Suharto. Ini berlangsung abadinya sehingga semakin menguatkan kuasa mafia peradilan yang SBY cuci tangan. Diana Hutagalung dalam komentar di blog tempo memberikan ulasan lebih tepat dalam hal ini.
    Jadi terdapat disain bahawa saat dan sepanjang SBY berkuasa tidak akan ada pemberantasan korupsi signifikan dan yang mampu mengheret banyak koruptor besar. Yang ada hanya ekspos-ekspos semacam aksus Gayus dan ini akan bergant-tukar agar rakyat lupa hal-hal yang tak dilakukan SBY dalam membagun negara yang benar. Tentu tidak akam ada keberanian SBY menghukum mati seorang koruptor wang negara, sebab DPR juga tidak akan membuat undang-undang untuk ini, dan undang-undang untuk Pembuktian Terbalik. Semua jadi blunder dan omong kosong. Hanya pencitraan. Hanya penipuan. Hanya pembohongan kepada awam yang memang kurang pendidikan. Tentu yang dikorbankan mungkin kelas sedang dan kecil seperti Gayus Halumoan, yang juga tidak mungkin dihukum mati. Kalau SBY berani hokum mati Gayus, maka akan dipilih untuk ke tiga kali oleh rakyat.
    Tentu koruptor level jeneral nggak akan tersentuh, kecuali Susno, peniup pelui yang malang. Tindakan seperti ini hanya untuk SBY memperlihatkan kepada awam terutama melalui media elektronik TV-TV di Indonesia yang juga berstandar ganda kerana kepentingan pemodalnya yang hendak cari selamat dan terkumpul untung besar, mudah dikelabuhi trik-trik lihai SBY. Yang terpenting ada berita-berita panas dan seru, tanpa makna buat rakyat. Hanya dimanfaatkan oleh SBY bahawa dia seolah-seolah meberantas rasuah benar-benar. Seorang jeneral di kepolisian mengatakan bahawa masyarakat pasti akan diberi banyak tontonan kes-kes mahkamah menarik di media sehingga lupa derita ekonomi dalam pemerintahan SBY. Beliau berkata akan banyak kejutan yang seru-seru (dan tak terasa SBY selamat berkuasa sampai dua tempoh.
    Tentu kejutan-kejutan yang dimaksudkan adalah berbagai permainan trik-trik mempertahankan kuasa haram SBY khususnya kejuruteraan-kejuruteraan kecurangan pemilu 2004 dan 2009 yang sangat sempurna melalui khususnya KPU dengan pembiayaan dari sebahagian besar wang hasil bailout Bank Century yang tidak dibongkar DPR. Sebuah kejuruteraan yang sempurna, cara lama. Pencitraan? Kini dalam rasa ingin tahu kita adalah: Siapa menjatuhkan siapa. Atau mereka sesungguhnya hanya satu dalam 1001 sandiwara, melalui pencitraan, di saat rakyat semakin tolol dan ditidurkan dengan penyalahgunaan agama oleh orang-orang berkepentingan khususnya orang-orang adri PKS yang tidak jelas. Juga Indonsia tidak memiliki NGO-NGO hak asasi manusia dan parti pembangkang yang benar-benar kuat, serta jeneral-jeneral yang barangkali sakit hati, pu sudah tua-tua dan nggak berani turun risko, melawan SBY. [Bila awak masih punya opini lain sila majukan di kami: rodiyahbintizainuddin@mscterengganu.my ].

  2. Ini rekaan terang daripada SBY agar rakyat yang dah didera derita pelbagai bencana alam itu, mulai dari lumpur Lapindo sehingga gempa bumi Sleman Yogyakarta dan lebih teruk lagi tsunami di Mentawai, tidak memberontak, maka diamalkanlah kes-kes pembohongan, pengalihan perhatian, supaya rakyat lupa. Maklumlah rakyat dan majorit rakan-rakan mahasiswa serta dekan dan rektor Indon tu tolol-tolol sangat. Hari gini, kata teman-teman saya mahasiswa Indonesia di Universiti Doktor Mustafa (Beragama), masih berharap SBY yang terbukti lemah itu memperbaiki Indonesia, mimpi kali. Itu jelas nggak mungkin. Indonesia harusnya memilih tokoh seperti Mahfud MD, yang walau awam tapi tegas dan berani, sebuah darah Jawa Timur bernuansa keberanian Madura yang cendekia, luar biasa.
    Tetapi presiden Indonesia bukan seorang Mahfud tetapi hanya SBY.
    Kini semua orang tahu dan semakin jelas SBY jelas bahagian rejim lama, orang yang numpang dibesarkan Orba, sisa Orba yang beruntung. Tetapi apakah dia akan selamanya beruntung, jangan-jangan nanti berakhir digugat mahasiswa dan rakyat usai berkuasa 2014.
    Megawati menggantikan sisa kuasa Gus Dur. Oleh elite di sini dan Amerika cs, dilihat tidak tidak becus, ini terbkti, dalam mengurus negara. Wwaktu itu banyak copet, emski ekonomi jauh lebih baik, nilai ringgit masih berharga berbanding sekarang. Tetapi TNI dianaktirikan dan Mega lebih saying kepada hanya Polis.
    Oleh penguasa di belakang layar negara-negara membangun iaitu jeneral-jeneral di TNI dan Polis dan terutama oleh penguasa dunia Amerika cs, bahawa kalau terus dipegang Megawati maka kepentingan-kepentingan mereka tidak selamat. Khususnya Amerika cs punya multi kepentingan di Indonesia terutama ekenomi dalam erti yang luas, Amerika pada dasarnya nggak ada kepentingan demokrasi, dan Amerika selalu berstandar ganda.
    Oleh sindiket kuasa Amerika cs, dicarilah saat itu siapa yang pantas memegang kerajaan (boneka) di Indonesia mulai 2004. Yang dicari adalah seorang tokoh yang cukup kuat. Maka diputuskan dia harus dari Angakatan Bersenjata (TNI) dan tidak mungkin dari awam sebab awam di negara-negara membangun seperti Indonesia belum punya disiplin dan tidak akan disegani rakyat khuusnya untuk kes Indonesia. Tokoh itu juga harus tidak keras, tidak idealis dan tidak memeluk nasionalisme kuat seperti Sukarno. Sebab kalau seperti itu, maka tidak mungkin menurut untuk kepentingan Amerika dkk. Tentu tidak mungkin dipilih seorang Wiranto, seorang Prabowo, apalagi seorang tokoh pekerja seperti Mohtar Pahpahan, atau tokoh aktivis demo walaupun idealis seperti Sri Bintang atau Hariman, apalagi yang lain. Apalagi Rustrilanang, Andi Arif atau Budiman Sudjatmiko.
    Itulah kecerdasan Barat maka pilihan jatuh ke tangan seniorita SBY. Mulailah SBY bergerak dengan pelbagai jurus triknya. Dia memulakan membina pencitraan khusus untuk dirinya melalui sebuah konflik dengan Megawati dan suaminya Taufik Kemas ketika Mega masih presiden. Begitu dan selanjutnya sehingga nama harus mulai tertoreh di hati sanubari awam awam di kampung-kampung seluruh Indonesia. Bahkan sampai sekarang SBY lupa kini bukan satnya kempen terus dan dia terus mencitra dengan pelbagai “pencitraan”. Maka strategi SBY, pembangunan apapun yang dilakukan hanya sedikit dan yang terpenting diberitakan dan ini semakin memantapkan kedudukannya, seraya mengamankan kekuasaan dua tempoh dan kalau perlu lebih, meskipun di belakang layar, seperti Lee Kwan Yew Singapura.
    Dipilihnya SBY terbukti cukup menyelamatkan kepentingan Barat hingag saat ini. Dan ketika Obama baru-abru ini mampir ke Indonesia dari India untuk menuju Korsel dan negara-negara lain, pun dicitrakan bahawa SBY sengaja dating ke Indonesia demi SBY. Dipasangnya SBY terbukti menyelamatkan kepentingan Amerika cs. Maka ketiak itu 2004 dengan pelbagai cara akhirnya SBY sebagai pemenangnya bahkan dalam pilihan raya 2009. Tidak ada penguasa tanpa hasil kejuruteraan Amerika cs di negara-negara yang berkiblat ke Barat, termasuk Indonesia.
    Sebetulnya Indonesia ketika Mega tidak terpilih lagi ertinya negeri ini sudah kembali ke Orba tetapi dengan pendekatan lunak dengan bumbu-bumbu kebebasan akhbar dan bicara serta demokarsi hanya sebatas itu. Media menjadi bebas lepas tetapi kerana SDM mereka lemah dan kepentingan utama adalah jelas pemilik modal, mencari untung besar tanpa membina pendidikan dan pencerahan untuk rakyat itu. Media itu tidak berjuang bagi pembangunan sistem amsyarakat madani dan demokrasi yang benar. Sementara orang berkata demokrasi itu sudah kebabalsan. Sesungguhnya bukan kebablasan ettapi lebih tepat dikatakan demokarsi-demokrasian, dan SBY menikmati hal ini.
    SBY dibesarkan masa Orba jadi tidak mungkin tidak mengambil sebahagian pola Suharto. Ini berlangsung abadinya sehingga semakin menguatkan kuasa mafia peradilan yang SBY cuci tangan. Diana Hutagalung dalam komentar di blog tempo memberikan ulasan lebih tepat dalam hal ini.
    Jadi terdapat disain bahawa saat dan sepanjang SBY berkuasa tidak akan ada pemberantasan korupsi signifikan dan yang mampu mengheret banyak koruptor besar. Yang ada hanya ekspos-ekspos semacam aksus Gayus dan ini akan bergant-tukar agar rakyat lupa hal-hal yang tak dilakukan SBY dalam membagun negara yang benar. Tentu tidak akam ada keberanian SBY menghukum mati seorang koruptor wang negara, sebab DPR juga tidak akan membuat undang-undang untuk ini, dan undang-undang untuk Pembuktian Terbalik. Semua jadi blunder dan omong kosong. Hanya pencitraan. Hanya penipuan. Hanya pembohongan kepada awam yang memang kurang pendidikan. Tentu yang dikorbankan mungkin kelas sedang dan kecil seperti Gayus Halumoan, yang juga tidak mungkin dihukum mati. Kalau SBY berani hokum mati Gayus, maka akan dipilih untuk ke tiga kali oleh rakyat.
    Tentu koruptor level jeneral nggak akan tersentuh, kecuali Susno, peniup pelui yang malang. Tindakan seperti ini hanya untuk SBY memperlihatkan kepada awam terutama melalui media elektronik TV-TV di Indonesia yang juga berstandar ganda kerana kepentingan pemodalnya yang hendak cari selamat dan terkumpul untung besar, mudah dikelabuhi trik-trik lihai SBY. Yang terpenting ada berita-berita panas dan seru, tanpa makna buat rakyat. Hanya dimanfaatkan oleh SBY bahawa dia seolah-seolah meberantas rasuah benar-benar. Seorang jeneral di kepolisian mengatakan bahawa masyarakat pasti akan diberi banyak tontonan kes-kes mahkamah menarik di media sehingga lupa derita ekonomi dalam pemerintahan SBY. Beliau berkata akan banyak kejutan yang seru-seru (dan tak terasa SBY selamat berkuasa sampai dua tempoh.
    Tentu kejutan-kejutan yang dimaksudkan adalah berbagai permainan trik-trik mempertahankan kuasa haram SBY khususnya kejuruteraan-kejuruteraan kecurangan pemilu 2004 dan 2009 yang sangat sempurna melalui khususnya KPU dengan pembiayaan dari sebahagian besar wang hasil bailout Bank Century yang tidak dibongkar DPR. Sebuah kejuruteraan yang sempurna, cara lama. Pencitraan? Kini dalam rasa ingin tahu kita adalah: Siapa menjatuhkan siapa. Atau mereka sesungguhnya hanya satu dalam 1001 sandiwara, melalui pencitraan, di saat rakyat semakin tolol dan ditidurkan dengan penyalahgunaan agama oleh orang-orang berkepentingan khususnya orang-orang adri PKS yang tidak jelas. Juga Indonsia tidak memiliki NGO-NGO hak asasi manusia dan parti pembangkang yang benar-benar kuat, serta jeneral-jeneral yang barangkali sakit hati, pu sudah tua-tua dan nggak berani turun risko, melawan SBY. [Bila awak masih punya opini lain sila majukan di kami: rodiyahbintizainuddin@mscterengganu.my ].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s