Kumpulan artikel WordPress Mengenai Mafia Berkelay

Berikut adalah kumpulan artikel mengenai Mafia Berkeley dan atau yang berkaitan dengan Mafia Berkeley yang ditulis/diterbitkan di dalam WordPress. Daripada copy paste dulu ke MS Word kok kelamaan (dua kali jalan), ini langsung saya copas dari sumbernya masing-masing. Sungguh saya tidak berniat bikin ping balik, tapi jika memang seharusnya bikin ping balik… ya ikutan numpang tenar ya… Kalau ada diantara sumber ini yang tidak memperbolehkan saya copas di sini, boleh menanggapi dan minta dihapus, akan saya hapus…
Postingan ini sekedar obat haus saya ingin tahu mengenai mafia berkeley… Ini dia:

Mafia Berkeley: Komprador Asing dan Pengkhianat Negara

Mafia Berkeley dianggap sebagai ’otak’ atas segala carut-marut ekonomi di Indonesia. Terjualnya sebagian besar aset strategis bangsa ini, semakin membengkaknya nilai hutang negara dan yang lain adalah keberhasilan ’agenda’ mereka. Negarapun ’tergadai’ oleh kapitalis asing. Negara ini pun ’dihisap’ habis kekayaannya. Ujungnya, rakyat semakin hari semakin sengsara. Yang menjadi pertanyaan, apa sebenarnya Mafia Berkeley itu? Siapa saja yang termasuk didalamnya? Bagaimana operasional mereka sebagai ’komprador’ asing yang setia menjual aset-aset negara? Bagaimana pola rekruitmen mereka? Dan yang terpenting, kenapa mereka hingga saat ini ’tidak tersentuh’? Untuk menjawab itu semua, redaksi kami (gus uwik) mewawancara khusus Mas Kusfiardi (Mantan Koordinator Koalisi Anti Utang KAU)). Berikut petikan wawancaranya:

Sebenarnya, apa Mafia Berkeley itu apa Pak? selengkapnya baca di gus uwik bisnis politik

Sejumlah Calon Menteri Mafia Berkeley Rontok

VIVAnews – Sejumlah nama yang sebelumnya disebut-sebut sebagai kelanjutan dari “Mafia Berkeley” rontok dari daftar kandidat tim ekonomi kabinet Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono.

Padahal, sebelumnya sejumlah nama itu santer disebut sebagai calon kuat kandidat menteri bidang ekonomi. Nama-nama tersebut adalah Sri Mulyani, Mari Pangestu, Chatib Basri, Raden Pardede, dan Anggito Abimanyu.

Namun, hingga detik-detik terakhir, dari nama-nama tersebut yang sudah pasti bakal terpilih adalah Sri Mulyani dan Mari Pangestu. Keduanya malah telah mengikuti wawancara dan pemeriksaan kesehatan.Selengkapnya baca di komiocy

Tim Ekonomi SBY, Reinkarnasi Mafia Berkeley Godfather Boediono

VIVAnews – Ekonom Senior Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan menganggap nama-nama yang akan muncul dalam tim ekonomi kabinet Susilo Bambang Yudhoyono – Boediono merupakan bagian dari mafia Berkeley.

Nama-nama seperti Sri Mulyani Indrawati, Anggito Abimanyu, Chatib Basri dan Raden Pardede masih merupakan satu kubu di bawah payung Beodiono.

Mereka adalah reinkarnasi Mafia Berkeley dengan sang Godfather Boediono.

“Kalau dulu kan Widjojo, sekarang Boediono,” kata dia di Jakarta, 15 Oktober 2009.

Dulu, di jaman Soeharto, geng tim ekonomi Lapangan Banteng, kantor pusat Menko Perekonomian memang dikenal sebagai Mafia Berkeley karena alumni dari University of California, Berkeley.

Mereka dipimpin oleh begawan ekonomi Widjojo Nitisastro…. Selengkapnya baca di kamtri

Kasus Century Mengalir Hingga Mafia Berkeley

Selengkapnya baca di kabarnet

Mafia Berkeley dan Agen Asing

Sehubungan dengan pengembalian dana berjaga-jaga kepada Dana Moneter Internasional (IMF) oleh pemerintah, Franciscus Xaverius Seda dalam wawancara dengan harian ini (Bisnis, 18 Oktober) menilai tindakan tersebut menunjukkan sikap penakut pemerintah, termasuk presidennya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Frans Seda, pemerintah masih mau membayar utang dan tidak mau minta penghapusan utang.

Pemerintah juga tidak mau memanggil semua kreditor untuk menyatakan Indonesia tidak bisa bayar utang dan menyampaikan bahwa semua uang guna membayar utang akan digunakan untuk mengatasi kemiskinan. Selengkapnya baca di kusfiardi

Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia dan Kegagalan Mafia Berkeley

Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia, Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia Ekonomi dan Jalan Baru Membangun Indonesia, itulah judul sebuah buku yang dikemas dalam bentuk digibook (3d digital book) yang saya temukan secara tidak sengaja saat saya browsing via Google. Digibook tersebut membahas perjalanan ekonomi Inonesia di bawah 5 Presiden RI dan juga gagalnya perekonomian ala Mafia Berkeley di Indonesia.Digibook tersebut di karang oleh Ishak Rafick, seorang wartawan senior Indonesia, alumnus S1 UI yang juga mengenyam pendidikan Master di Belanda. Dengan kata pengantar dari Rizal Ramli (capres dari Blok Perubahan sekarang –red), buku ini hadir sebanyak 499 lembar. Cukup tebal, namun akan cukup renyah (meminjam istilah salah satu dosen saya di STAN) dan mengenyangkan bagi para pembaca yang harus dengan konstalasi “perekonomian negara”. Selengkapnya baca di danisugiri

Mafia Berkeley Sutradara Krisis Indonesia

“Yang ndableg manut dengan IMF hanya Indonesia dan Bank Indonesia,” ujar Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, dalam jumpa pers di Ruang Rapat F-PDIP, Jumat (10/10), saat mengkritik policy pemerintah dalam menanggulangi dampak krisis finansial global saat ini.

IMF? Bukankah katanya utang Indonesia ke IMF sudah dilunasi?

Betul. Tapi, IMF hanyalah salah satu dari triumvirat Washington. Masih ada duo Washington lagi yakni World Bank dan Departemen Keuangan Amerika Serikat, yang konsensusnya menjadi kiblat amal Mafia Berkeley di Indonesia. Selengkapnya baca di masayok

Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia

SALAH satu masalah besar yang sedang dialami bangsa Indonesia adalah krisis ekonomi. Sampai saat ini krisis ekonomi masih menjadi fenomena akut yang belum ditemukan obat penyembuhannya. Berbagai kebijakan telah diterapkan oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah, namun ternyata kebijakan tersebut masih jauh dari tuntutan masyarakat.Bahkan krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia sejak 1997 semakin menimbulkan persoalan yang rumit dan kompleks, yakni mengarah pada krisis multidimensi. Persoalannya, apa akar masalah di balik krisis ekonomi yang menimpa bangsa ini.

Buku Mafia Berkeley dan Krisis Ekonomi Indonesia yang ditulis Revrisond Baswir sebagai Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini berusaha mengungkap lebih jauh mengenai krisis ekonomi yang menimpa bangsa Indonesia.Bagi penulis, penyebab krisis ekonomi Indonesia adalah Mafia Berkeley (mafia ekonomi Orde Baru), yaitu sekelompok ekonom Indonesia yang ‘dibina’ pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke jalan ekonomi pasar neoliberal.
Selengkapnya baca di yoesoef hasyim

Globalisasi, Liberalisasi, Proteksi, Subsidi dan Berkeley Mafia

(KKG : Ternyata pemerintah AS memberikan subsidi yang menurut majalah Economist reckless. Bagaimana sikap para sarjana ekonomi kelompok Berkeley Mafia yang begitu anti subsidi untuk para petani dan nelayannya ?)

Walaupun harga makanan ditentukan oleh permintaan dan penawaran, keseimbangan antara yang baik dan yang jahat tetap banyak tergantung pada kebijakan pemerintah. Kalau para politisi tidak melakukan apa-apa, atau melakukan hal-hal yang salah, dunia akan mengalami kesengsaraan yang lebih hebat, terutama mereka yang tinggal di perdesaan. (KKG : Menurut Berkeley Mafia : The best government is the least government. Mereka juga sering guyonan dengan maksud serius yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi paling cepat di malam hari, ketika pemerintah sedang tidur.

Menurut majalah The Economist, peran politik para politisi sangat penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Para ekonom Berkeley Mafia beranggapan dan bangga bahwa mereka selalu berhasil mensterilkan kebijakan-kebijakannya dari ideologi politik. Mereka tidak mau disebut “politisi” walaupun dalam arti “negarawan penyelenggara negara”. Mereka bangga disebut “tukang” atau “teknokrat”. Dan yang sangat aneh, Bapak SBY-JK bangga mempunyai menteri-menteri ekonomi yang sama sekali tidak mempunyai afiliasi politik, karena sikapnya yang anti politik dalam kebijakan ekonomi itu dipuji oleh IMF, Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia. Padahal SBY-JK berasal dan menjadi pimpinan nasional karena kekuatan politik.) Selengkapnya baca di klipingut

CGI, Mafia Berkeley dan Penghapusan Utang

Terobosan pembubaran CGI dan percepatan pelunasan utang IMF, sebagai jalan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi, ternyata tidak dikehendaki oleh Mafia Berkeley (MB) di negeri ini. Mereka adalah sekelompok ekonom beraliran neoklasik, yang berpengaruh besar dalam menentukan arah, strategi, dan kebijakan ekonomi negara selama hampir 41 tahun. Besarnya pengaruh itu nyaris tanpa henti, dari 1966-2007. Dalam sejarahnya, kelompok MB ini dipersiapkan secara sistematis oleh kekuatan luar Indonesia, selama sepuluh tahun sebelum berkuasa (1956-1965). Pembangunan kapasitas intelektual serta jaringan kerjanya, merupakan bagian dari strategi perang dingin menghadapi kekuatan progresif dan revolusioner di kawasan Asia. Kelompok ini disebut dengan istilah “Mafia Berkeley,” karena kebanyakan dari generasi pertamanya adalah lulusan Program Khusus di Universitas Berkeley, California, Amerika Serikat. Program ini, dibiayai oleh The Ford Foundation dan The Rockefeller Foundation.

Dalam masa studinya, sebagaimana ditulis David Ransom (Ramparts, Oktober 1970), kelompok ini dicekoki teori-teori ekonomi liberal, yang percaya bahwa ekonomi berorientasi pasar adalah jalan terbaik untuk kemajuan Indonesia. Doktrin ini mengajarkan, Indonesia hanya bisa duduk sejajar dengan negara maju lainnya, jika mengintegrasikan diri ke dalam sistem kapialisme global. Selengkapnya baca di kenalineoliberal

Masih Adanya ‘Mafia Berkeley’ di Kabinet Halangi Kemandirian Ekonomi

Bertahannya ‘Mafia Berkeley’ dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II merupakan kabar buruk bagi penyelesaian persoalan utang secara adil. “Selama ini para menteri beraliran neoliberal itu justru menjadi penghalang terwujudnya kemandirian ekonomi dari dominasi modal asing di dalam negeri.”
Selengkapnya baca di mesin kasir indocashregister

Antara Hutang Indonesia, Mafia Berkeley, Soekarno, Amerika, dan CIA

Terjemahan judul buku tersebut cukup menohok, yakni “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia.

Dalam tulisan tersebut ada beberapa hal yang diungkapkan oleh David Ransom, yang antara lain :
Kronologis penggulingan Soekarno, yang tidak lain adalah campur tangan Amerika melalui jaringan-jaringan terselubungnya.
Selengkapnya baca di sagahayyu

:: Mafia Barkeley :: Pengkhianat Bangsa

Mafia Berkeley dianggap sebagai ’otak’ atas segala carut-marut ekonomi di Indonesia. Terjualnya sebagian besar aset strategis bangsa ini,semakin membengkaknya nilai utang negara dan yang lainnya adalah keberhasilan ’agenda’ mereka. Negara akhirnya ’tergadai’ oleh kapitalis asing. Negara ini pun ’dihisap’ habis kekayaannya. Ujungnya, rakyat semakin hari semakin sengsara. Apa sebenarnya Mafia Berkeley itu? Siapa saja yang termasuk di dalamnya? Bagaimana operasi mereka sebagai ’komprador’ asing yang setia menjual aset-aset negara? Bagaimana pola….
Selengkapnya baca di kafilahsyuhada

PDIP dan Partai Demokrat – Mempercudangi Rakyat

Para analis ekonomi-politik melihat, PDIP dan Partai Demokrat (PD) yang Ketua Dewan Pembinanya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sungguh setali tiga uang. PDIP dulu memakai Budiono. Kini SBY memakai Sri Mulyani dan juga Budiono. “Dari visi ekonomi, PDIP Mega dan PD SBY sama-sama neolib dan tunduk kepada Amerika,” kata ekonom Ahmad Erani Yustika.

Bagaimana rakyat kecil akan bisa diberdayakan PDIP dan Partai Demokrat jika neokolonialisme yang dilawan Soekano, malah diterapkan PDIP dan PD di negeri ini melalui jaringan Mafia Berkeley, Bank Dunia, dan IMF. “Program PDIP dan Partai Demokrat sesungguhnya berjenis kelamin sama, yakni neolib,” kata Hartojo Wignyowiyoto, ekonom senior.

Mafia Berkeley adalah kelompok neolib paling tangguh dan ngotot yang terbukti telah gagal di era Orde Baru. Salah satu kegagalan program pembangunan mantan Presiden Soeharto dalam sektor ekonomi adalah mengadopsi rumus kebijakan ekonomi dari kelompok ekonom yang disebut Mafia Berkeley ini.
Selengkapnya baca di rindrakari

Skenario Antek Amerika Menjual Habis Indonesia

Kursi Gubernur Bank Indonesia kembali diserahkan kepada Mafia Berkeley. Rencana penjualan BUMN jalan terus, sementara di tengah bayang-bayang resesi dunia, pemerintah menutup-nutupi kebobrokan ekonomi dengan permainan statistik.
Selengkapnya baca di qitori

Oh No….,Not Boediono!

Oh No,…why Boediono?kenapa harus Boediono?

Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau dia bersama Sri Mulyani menjadi komprador* bagi tangan asing di negeri kita?.Opini saya ini tidak ada hubungannya dengan penolakan anggota koalisi bersama partai demokrat.I only share my point of view.

Siapa sih Boediono ini?Boediono adalah sedikit dari orang Blitar yang bisa sekolah sampai ke Amerika.Dia memperoleh gelar Doktoralnya di Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979.
Lalu dimana masalahnya?

Masalahnya mulai timbul saat Boediono dianggap menjadi salah satu member mafia berkeley yang mengatur perekonomian Indonesia berdasar “order” asing.Boediono dianggap terlalu patuh dan menjadi kaki tangan asing di Indonesia.
Selengkapnya baca di almaokay

NAPAK TILAS EKONOMI PANCASILA

Istilah “ekonomi Pancasila” mencuat kembali pada masa-masa kampanye pemilihan Presiden. Bersama istilah “ekonomi kerakyatan”, istilah “ekonomi Pancasila” disebut-sebut sebagai anti-tesis dari kebijakan neoliberal yang pangkal-muasalnya sering dituding-tudingkan pada sekelompok ekonom-teknokrat lulusan Berkeley — mereka yang dengan nada sedikit sarkastis kerap diledek sebagai “mafia Berkeley”.

Tapi benarkah mafia Berkeley itu anti ekonomi Pancasila? Saya punya cerita untuk soal ini.
Selengkapnya baca di irsyadlubis

BOEDIONO: PEMERAN UTAMA SBY-BERBUDI

Boediono adalah sosok yang telah lama dibina oleh IMF, ADB, dan Bank Dunia, melalui jaringan mafia Berkeley. Tujuannya adalah untuk memancangkan ekonomi neoliberal di Indonesia. Sebagai akademisi, Boediono yang ramah dan murah senyum serta jujur itu bekerja dengan taat asas. Pemikirannya sangat text book, layaknya mahasiswa yang sedang ujian akhir. Boediono adalah ilmuwan yang sangat percaya bahwa pasar sangat vital dalam menentukan kesejahteraan rakyat. Bicara neoliberalisme sama artinya bicara tentang ekspansi kepentingan pemodal negara-negara kaya.
Selengkapnya baca di mustafit

perdagangan bebas di Indonesia ? (1)

“I beg to be different” (Shodan Purba), sangat melengkapi dua kubu sentral dalam masalah ekonom ini dimilis kita, yang kita langsung hadapi sekarang ini di negeri Indonesia. Dalam soal nasionalisasi-internasionalisasi/liberalisasi sudah sering kita mendengar dua pendapat besar, seperti yang diwakili oleh Kwik Kian Gie, Rizal Ramli dll dan dipihak lain Washington Consensus (mafia berkeley) seperti Budiono, Sri Mulyani dll dimulai sejak era economist Sumitro Djojohadikusumo. Untuk lebih menyingkat saya kutib wawancara Rizal Ramli di Arsip Milis AKI online, demi kenyamanan Anda semua
Selengkapnya baca di kolomsejarah

Jejak Neoliberalisme di Indonesia Part.2

… di kampus terkemuka Amerika, seperti MIT, Cornell, Berkeley , dan Harvard. Inilah cikal bakal lahirnya Mafia Berkeley . Pada saat itu, Ford Foundation dipimpin Paul Hoffman yang …
Selengkapnya baca di ariasusman

IMF COME BACK…

lubang yang sama” inilah yang kemungkinan akan dilakukan oleh pemerintahan sby+jk+mafia berkeley yang dikomandoi oleh Sri mulyani.

Jika kita melihat kenelakang sejarah indonesia pasca tumbangnya Bung Karno 41 tahun lalu, Jenderal Suharto yang telah sukses mengkudeta Bung Karno, mengirim satu tim ekonomi yang terdiri dari Prof. Sadli, Prof. Soemitro Djoyohadikusumoh, dan sejumlah profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS—sebab itu tim ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’—ke Swiss. Mereka hendak menggelar pertemuan dengan sejumlah konglomerat Yahudi dunia yang dipimpin Rockefeller.
Selengkapnya baca di jakasetiawan

Emil Salim dituduh hanya `cuci tangan`

JAKARTA – Mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto, Prof Dr Emil Salim dinilai ‘cuci tangan’, karena sebagai salah seorang dari penasehat ekonomi yang sering dijuluki ‘mafia Berkeley’, dia ikut bertanggungjawab terhadap kehancuran ekonomi bangsa ini.

“Beliau kan cuci tangan dengan menyebut saat Soeharto menjadi presiden telah dirusak oleh orang-orang dekatnya sendiri, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dibesarkannya,” kata pengamat ekonomi politik Ichanudin Noorsy menjawab Harian Terbit di Jakarta, kemarin.
Selengkapnya baca di kabinetindonesia

Daftar 10 Orang Terkejam sepanjang masa New Versi

Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh MPR Sementara. Setahun kemudian, pada 27 Maret 1968 dia resmi diangkat sebagai Presiden untuk masa jabatan lima tahun yang pertama. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.

Ekonomi Indonesia benar-benar amburadul di pertengahan 1960-an. Soeharto pun kemudian meminta nasehat dari tim ekonom hasil didikan Barat yang banyak dikenal sebagai “mafia Berkeley”. Tujuan jangka pendek pemerintahan baru ini adalah mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, serta mendorong masuknya investasi asing. Dan untuk satu hal ini, kesuksesan mereka tidak bisa dipungkiri. Peran Sudjono Humardani sebagai asisten finansial besar artinya dalam pencapaian ini.Di bidang sosial politik, Soeharto menyerahkannya kepada Ali Murtopo sebagai asisten untuk masalah-masalah politik. Menghilangkan oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik dilakukan melalui fusi dalam sistem kepartaian.
Selengkapnya baca di pencaricerah

Pemimpin yang Takut kepada Pihak Asing

Salah satu sumber masalah buat negeri kita ini adalah adanya mafia di level para penentu kebijakan poitik dan ekonomi. Di antaranya yang disebut dengan mafia Berkeley.

Mafia ini memang diciptakan oleh para penjarah di Amerika berupa pusat pendidikan dan perguruan tinggi. Antara lain Universitas Berkeley, Cornell, MIT (Massachusette Institute of Technology), Harvard dan lainnya. Berbagai perguruan tinggi yang menjadi favorite ini ternyata merupakan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-ilmu liberal. Termasuk menjadi pusat untuk meng-Amerika-kan para mahasiswa yang datang ke negeri itu (termasuk Indonesia) dan menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika yang setia.

Bahkan sebenarnya menurut David Ransom, bebagai perguruan tinggi itu pada hakikatnya hanya kedok saja. Isinya tidak lain adalah wadah bagi CIA untuk melakukan cuci otak. Luar biasa bukan?

Para mahasiswa jebolan Berkeley dan yang lainnya, setelah mendapat gelar Phd dan sejenisnya, kemudian pulang negeri kita dan berkerumun di sekitar pusat kekuasaan dan menguasai berbagai Fakultas Ekonomi. Tujuannya, selain menjadi penyambung lidah Amerika, memelintir cara berpikir bangsa, juga mengambil alih kebijasanaan negara dalam masalah ekonomi.

Mafia ini kemudian duduk menjadi pejabat yang paling menentukan arah langkah kebijakan ekonomi di negeri ini. Semua jabatan menteri di bidang perekonomian dikuasai, siapa pun yang jadi presidennya. Jabatan Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Bapenas, Penanaman Modal Asing, Menteri Perindustrian, Dirjen Pemasaran dan Perdagangan, dan jabatan penting lainnya adalah tempat yang paling strategis untuk menjalankan agenda kolonialisme Amerika modern di negeri kita.
Selengkapnya baca di idrussali85

Jejak CIA di Indonesia – bag.4

Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washingon. Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”.

Untuk membangun satu kelompok militer—terutama Angkatan Darat—di Indonesia yang ‘baru’ (baca: pro Amerika), AS menyelenggarakan pendidikan militer untuk para perwira Indonesia ini di Fort Leavenworth, Fort Bragg, dan sebagainya. Pada masa antara 1958-1965 jumlah perwira Indonesia yang mendapat pendidikan ini meningkat menjadi 4.000 orang. (Suroso; 2008; h. 373)

Selain militer, AS juga membangun satu kelompok elit birokrat di Universitas-Universitas AS seperti di Berkeley, MIT, Harvard, dan sebagainya, yang dikenal sebagai Mafia Berkeley. Kedua elemen ini binaan AS ini (kelompok perwira AD yang dipimpin Suharto dan kelompok birokrat yang tergabung dalam ‘Mafia Berkeley’ pimpinan Sumitro) kelak berkuasa di Indonesia setelah Soekarno ditumbangkan. Inilah cikal bakal Orde Baru (The New Order). Amerika Serikat sendiri juga dikenal sebagai pemimpin Orde Dunia Baru (The New World Order).
Selengkapnya baca di bifisamags

Indonesia: diantara Penguasa, Sistem dan Kesejahteraan

Ketiga, pada aspek ekonomi kebijakan Orde Baru banyak ‘dibantu’ AS dengan cara membentuk mafia ekonomi yang dikenal dengan Mafia Berkeley. Mafia inilah yang kemudian merancang kebijakan ekonomi Indonesia yang kapitalistik, liberal dan sesuai dengan kepentingan AS. Mereka ditempatkan dalam posisi strategis dalam pemerintahan untuk mengendalikan perekonomian negara. Sebagian besar pejabat ekonomi dalam kabinet Orde Baru adalah hasil didikan AS terutama dari Mafia Berkeley tersebut. Misalnya, Widjojo Nitisastro sebagai ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Emil Salim sebagai wakilnya, Subroto sebagai dirjen pemasaran dan perdagangan, menteri keuangan Ali Wardhana, serta ketua Penanaman Modal Asing Moh Sadli. Sesuai dengan politik ekonomi AS, mafia ini menjalankan kebijakan ekonomi yang kapitalistik. Yaitu kebijakan yang pro pasar, mengundang investasi asing, meminjam hutang luar negeri. Dampaknya sangat luar biasa. Kebijakan investasi asing ditandai dengan penjualan kekayaan alam Indonesia kepada perusahaan asing sebagai kompensasi dari bantuan hutang luar negeri Indonesia. Freeport mendapat emas di Papua Barat, sebuah perusahaan konsorsium Eropa mendapat Nikel di Papua Barat, perusahaan lain mendapat hutan tropis. Sementara hutang luar negeri kemudian menjadi alat tekanan negara donor yang semakin menjerat Indonesia. Akibat jebakan hutang ini Indonesiapun harus patuh terhadap instruksi IMF dan Bank Dunia, yang alih-alih menyelesaikan krisis ekonomi, tapi malah membuat krisis ekonomi makin parah.
Selengkapnya baca di nuansamasjid

Antara SBY, Budiono dan kepentingan neoliberalisme AS di Indonesia

Berikut tulisan mengenai kepentingan neoliberalisme AS (IMF, World Bank dan WTO) di Indonesia serta hubungannya dengan ekonom-ekonom neoliberal Indonesia yang salah satu diantaranya adalah Budiono yang kini menjadi cawapres daripada SBY. Neoliberalisme adalah kata lain untuk neokolonialisme, yaitu penjajahan bentuk baru lewat hutang yang “dipaksakan” oleh lembaga-lembaga “dunia” yang sebenarnya mewakili kartel perbankan AS (“internasional”). Kebijakan para ekonom-ekonom neoliberallah yang menjadikan Indonesia menjadi negara penghamba dan penghutang yang pada gilirannya memiskinan rakyat Indonesia.
Selengkapnya baca di vara

Indonesia Brainstorming

Oleh ichwan kalimasada
……………..
Pemerintah, menurut Fuad, terjebak skenario Mafia Berkeley yang bercokol sejak masa lahirnya Orde Baru. “Pembangunan kita itu, dari dulu hingga sekarang, praktis sama, yakni masih diarsiteki oleh rezim Mafia Berkeley. Ganti-ganti Presiden, rezim ekonominya tetap sama. Di mata mereka, Presiden hanya boneka. Rezim ekonominya tidak pernah berubah, praktis tidak tergoyahkan. Rezim pemiskinan ini terus bercokol,” ujarnya.
Selengkapnya baca di dongants

Rupanya Tuhanlah yang “Memilih” Boediono via Istikharah SBY

Mafia Berkeley berasumsi pemerintah perlu menyubsidi pengusaha besar agar mereka sukses. Dan bila mereka sukses, keuntungannya akan menetes ke bawah. Tetapi ketika mereka telah menjadi konglomerat, ketika mereka diimbau oleh Presiden Soeharto agar memberikan 25 persen sahamnya kepada koperasi karyawan, mereka menolak, dan hanya bersedia memberikan 1 persen. Hanya beberapa pengusaha, di antaranya Jusuf Kalla, yang bersedia memberikan 2 persen saham, artinya mereka tidak ikhlas membagi keuntungan kepada karyawan sendiri.

Sindiran Presiden Soeharto kepada mantan tokoh mahasiswa yang telah menjadi konglomerat bahwa modal mereka hanya ”jaket kuning” tidak menggerakkan hati mereka untuk mengucurkan keuntungan kepada karyawan. Ironisnya, ketika terjadi krisis moneter, para konglomerat bersekongkol dengan kroni Soeharto agar seluruh rakyat Indonesia yang menanggung dan menalangi utang mereka sebesar Rp 650 trlliun berikut bunga. Besar bunganya sekitar 10 persen setiap tahun dan diperkirakan baru lunas pada 2030.
Selengkapnya baca di nusantaraku

Prabowo dan Pandangannya

Tapi dari acara itu, saya menyadari sejumlah hal baru. Termasuk pemikiran Prabowo mengenai perekonomian. Ia mengutarakan beberapa hal yang saya belum tahu. Misalnya saja soal ketiadaan kewajiban bagi pengusaha kita untuk menanamkan kembali uang hasil usahanya di Indonesia. Prabowo menggaris-bawahi dirinya sebagai penentang paham neo-liberalisme laissez faire yang menurutnya selama ini dianut Indonesia dengan berkiblat ke A.S. Baginya sistem terbaik ya ekonomi Pancasila berdasarkan UUD 1945. Ia mengatakan pendiri negara kita sudah memikirkan sistem tersebut yang sudah disusun semenjak awal berdirinya negara. Karena menurutnya, para pendiri negara telah mengalami depresi ekonomi 1930 (lihat tulisan saya di blog ini tentang The Black September).

Cuma, jangan lupa, Prabowo adalah putra begawan ekonomi Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Bapaknya inilah yang bersama-sama dengan lulusan Harvard, Princeton dan UCLA at Berkeley lainnya dikenal sebagai “Mafia Berkeley”. Mereka inilah yang merancang sistem ekonomi Orde Baru atas permintaan Soeharto. Kalau sekarang Prabowo mengkritisi sistem perekonomian yang kita anut, sejatinya ia mengkritisi pandangan bapaknya sendiri.
Selengkapnya baca di lifeschool

sri mulyani’s economic team

Jakarta, (tvOne) Tim ekonomi pemerintah yang dipimpin oleh Sri Mulyani Indrawati dinilai gagal membawa Indonesia keluar dari jerat kemiskinan. “Tim ekonomi Indonesia telah gagal total,” ujar pengamat ekonomi politik dari Northwestern University, AS, Prof Jeffrey Winters kepada seperti dilansir vivanews.com di Jakarta, 22 April 2009. Menurut dia, dimensi kegagalan itu adalah Indonesia merupakan negara yang sangat miskin. Saat ini jumlah penduduk miskin lebih dari 35 juta orang. Bahkan, dia menilai kebijakan dan sistem ekonomi yang diterapkan selama 40 tahun telah gagal untuk mengangkat Indonesia dari kemiskinan. Apalagi menjadi negara maju. “Kegagalan itu berlanjut hingga sekarang.” Dia menilai sumber kegagalan itu adalah tim ekonomi yang dikendalikan oleh mafia Berkeley, serta memiliki kedekatan dengan IMF dan Bank Dunia. Padahal, menurut dia, hampir tidak ada negara yang menjadi pasien Bank Dunia berhasil menjadi negara maju. “Kebanyak pasti gagal jadi negara maju.” Karena kegagalan itu, dia menyarankan pemerintah baru nanti tidak menggunakan tim ekonomi yang mewarisi mafia Berkeley. “Buang saja, mereka sudah terbukti gagal.” Menurut Winters, ekonom paling top yang tepat memimpin tim ekonomi Indonesia adalah Rizal Ramli. Saat menjadi Menko Perekonomian di jaman Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal malah sudah berbuat banyak dalam waktu singkat. Rizal dikenal memiliki sikap baru terhadap IMF dan Bank Dunia. Dia bernegosiasi secara frontal dengan pihak luar. “Rizal juga menjadi lokomotif bagi ekonomi Indonesia,” kata dia. Rizal, menurut Winters, justru memperjuangkan Indonesia agar mendapatkan keuntungan terus menerus karena nasionalis. “Seperti China, mereka dihargai dunia karena bersikap nasionalis yang kuat.”
Selengkapnya baca di vions

Pidato Presiden Amerika George Walker Bush sebelum berkunjung ke Indonesia

Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari segi ekonomi, militer, politik, budaya, teknologi, dan lain-lain dan lain-lain Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada agen-agen CIA agar memecah belah , tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka, biar mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang menentang kita.

Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha kita, perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara Sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang terhormat pejabat korup Indonesia. Dan lain-lain, dan lain-lain.
Selengkapnya baca di anangku

hubungan antara Soekarno ,Soeharto dan Aceh !!!

soekarno saya rasa sama, yaitu mereka adalah korban kudetakonspirasi amerika, mereka jatuh bukan karena mahasiswa, tetapi mereka jatuh dikarenakan adanya konspirasi besar untuk menjarah kekayaan alam indonesia, soekarno jatuh karena terlalu nasionalis, dan agak pro komunis, yang menyebabkan pihak paman sam sulit mengendalikan ekonomi indonesia, karena prinsip sistem sosialis itu adalah penguasaan mutlak oleh negara, pada masa soeharto , amerika sangat mudah memberikan pengaruhnya, contohnya melalui pembibitan benih mafia berkeley yang menjadi para thinker untuk mengkapitalisasi ekonomi indonesia,
Selengkapnya baca di mudabentara

Potret Perjalanan Duit Haram

Pencucian uang atau money laundering sebenarnya istilah baru–lahir dari pemberitaan kasus Watergate pada 1973 di Amerika Serikat. Sutan Remy Sjahdeini menyebut prestasi “wah” kita dalam pencucian uang berangkat dari sebuah “salah tangkap”, salah menafsirkan kecenderungan di dunia internasional. Waktu itu, Indonesia masih di bawah Soeharto, dan tim ekonomi dalam kabinet, seperti Widjojo Nitisastro, menganggap penerapan rezim anti-pencucian uang akan berdampak buruk. Widjojo, dan “mafia Berkeley” lainnya, khawatir undang-undang anti-pencucian uang menghambat masuknya modal asing ke Indonesia. Sebuah logika berpikir yang belakangan terbukti keliru.

Situasi mulai berubah saat Indonesia di tubir krisis ekonomi 1997. Indonesia tak memiliki posisi tawar kuat saat berhadapan dengan lembaga moneter internasional, IMF. Saat itu IMF menekan Indonesia untuk segera membuat UU anti-pencucian uang. Bahkan hal ini menjadi salah satu poin dalam letter of intent antara Indonesia dan IMF. Setelah melewati perdebatan yang melelahkan di parlemen, baru pada April 2002 lahir UU No. 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Perkembangan itu dilukiskan Sutan Remy Sjahdeini dengan apik dan jelas dalam buku ini–ia termasuk dalam tim ahli yang ikut menyusun undang-undang itu.
Selengkapnya baca di setiyardi

Wajah-wajah Neoliberal di KIB jilid II

Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II bentukan SBY hanya akan berganti “casing” saja. Wajah-wajah neoliberal masih banyak yang bercokol di dalamnya. Jadi jangan heran bila ternyata kabinet baru ini hanya akan melanjutkan neoliberalisme. Agenda-agenda neolib lainnya juga akan tetap berlanjut, seperti penjualan BUMN. Program privatiasasi BUMN yang “gagal” pada tahun 2009, bisa dipastikan akan dilanjutkan. Saat ini saja, pemerintah tengah bersiap-siap akan melego Pertamina.

Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera meminta jadwal pertemuan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait dengan izin privatisasi beberapa perusahaan plat merah. Perusahaan negara yang saat ini masih butuh restu DPR dalam melakukan privatisasinya adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, IV dan VII. Sementara perusahaan plat merah yang sudah siap masuk lantai bursa antara lain: PT Krakatau Steel, PT Garuda Indonesia, PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan dan PT Bank Tabungan Negara (BTN).
Selengkapnya baca di muhammadjabir

Media Amerika: Soeharto Penguasa Paling Brutal

Soeharto pernah begitu dekat dengan Amerika Serikat dan kubu Barat. Di dekade kedua Perang Dingin ia adalah anak emas blok kapitalis Barat dan menjadi kekuatan utama blok Barat dalam menghadapi pengaruh komunis dari Peking atau Beijing. Sukses membungkam Presiden Sukarno, di pertengahan 1970-an, Soeharto kembali digunakan untuk menghentikan apa yang disebut sebagai sisa-sisa “bahaya kuning” di Timor Leste, bekas provinsi Portugis.

Juga Soeharto yang pertama kali memberikan lampu hijau bagi perusahaan tambang milik Amerika Serikat, Freeport, untuk mengeksplorasi dan selanjutnya mengeksploitasi tambang tembaga dan emas di Papua: mengubah bukit menjadi danau. Ia juga menerima “bantuan luar negeri” yang sesungguhnya adalah utang dan pada gilirannya menjerat rakyat Indonesia sampai hari ini.

Soeharto dengan bantuan Mafia Berkeley, kelompok ekonom Indonesia yang tergila-gila pada jalan kemakmuran ala Barat, di awal 1970-an dan 1980-an mempraktikkan teori pembangunan yang percaya bahwa kemakmuran sekelompok konglomerat akan menetes ke bawah.
Selengkapnya baca di kapasmerah

Sejarah RI

Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata, di Indonesia. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom-ekonom lulusan departemen ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil “Mafia Berkeley”. Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.

Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
Selengkapnya baca di togry

Reorientasi ‘Perspektif’ dan ‘Dimensi’ Kalbu Indramayu

Pada tahun 1957, Indonesia mulai mengirimkan beberapa mahasiswa ke USA, tepatnya di Univ. Berkeley. Mereka mendalami bidang ekonomi, dengan biaya dari Ford Foundation. Kira-kira 10 tahun kemudian, pada masa awal pemerintahan Soeharto, mereka kembali sebagai ‘arsitek’ ekonomi Indonesia. Soemitro, Widjojo, Emil Salim, JB. Soemarlin adalah bagian dari golongan yang sedikit, yang menentukan wajah ekonomi Indonesia hingga 32 tahun kemudian. Bahkan hingga 10 tahun setelah masa reformasi, 2008, jejak pondasi ekonomi yang mereka ‘cetak’ masih mengakar kuat. Kaderisasi pun berlanjut hingga Dorodjatun Koentjoro Jakti, dan terakhir Sri Mulyani, yang ditengarai masih satu aliran dengan sesepuhnya. Anda tentu tahu istilah ‘Mafia Berkeley’? Merekalah orangnya.
SElengkapnya baca di casdiraku

Pengacara Anggoro membenarkan rekaman itu. Anggodo menuntut KPK ??

Bottle necking di pemerintah, rakyat bingung memperbaikinya. Membela KPK dibilang tak konstitusional. Ngomong ada kriminalisasi ( pimpinan ) KPK, nggak disimak. Jadi maunya apa ??

Saya jadi ingat omongan Kwik Kian Gie ketika mengomentari pidato SBY di National Summit, kemarin. Siapa bilang Indonesia tidak bisa ? Ya, semua orang juga sudah pada tahu. 5 tahun ini memang Indonesia .. TIDAK BISA ! Ratusan trilyunan uang rakyat digelontorkan ternyata 99, 99 % -nya untuk pengusaha2 besar. Hanya 0,01 % untuk usaha kecil/ rakyat. Lihat menteri2 perekonomian semuanya masih menggunakan mahzab yang sama, cara yang sama, orang2 yang sama, untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi di atas 7 %, penurunan kemiskinan 8-10 %, penurunan angka pengangguran 5-6 %. Pertumbuhan investasi harus digenjot sampai Rp.2.101 trilyun. Bahkan orang2 Widjoyo Nitisastro, mafia Berkeley ini, masih berkantor di Lapangan Banteng.

2 thoughts on “Kumpulan artikel WordPress Mengenai Mafia Berkelay”

  1. Saya setuju dengan artikel ini, cuman ada beberapa hal yang kita nggak baik mungkin terburu vonis. Yah, kita lihat aja dulu mudah-mudahan jalan keluarnya OK,

    thanks

    Rosmiaty

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s